Dunia sepak bola kembali dikejutkan oleh aksi heroik Argentina. Lionel Messi berhasil membalikkan keadaan saat melawan Mesir. Surat kabar L'Equipe menyebut mereka sebagai "keajaiban dari Sungai Nil". Argentina hampir saja menelan pil pahit. Mereka tertinggal 0-2 dari Mesir hingga menit ke-79.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak berita terbaru tentang Désiré Doué dan PSG dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Lionel Messi kemudian bangkit memimpin serangan. Kebangkitan luar biasa pun dimulai. Romero mencetak gol pertama setelah menerima umpan matang dari Lionel Messi. Sang kapten kemudian menyamakan kedudukan bagi Argentina. Pada masa injury time, Enzo Fernández mencetak gol kemenangan lewat sundulan kepala.
Albiceleste sempat tertekan untuk kedua kalinya secara beruntun. Namun mereka berhasil lolos ke perempat final berkat performa sang kapten. Media Argentina, Olé, menyebut penampilan Lionel Messi sangat "pharaonique". Sementara itu, media Spanyol AS memasang judul "hidup" pada halaman utama mereka. Argentina tetap bertahan di tengah badai gurun Mesir.
Media Italia, Corriere dello Sport, menggunakan bahasa Inggris karena laga berjalan tidak nyata. "Oh my god," tulis media tersebut. Daily Mail memberitakan Lionel Messi yang menangis bahagia. Sang megabintang berjuluk La Pulga itu menjelaskan alasan di balik air matanya setelah pertandingan usai. Dia tidak menangis saat melawan Tanjung Verde meskipun laga itu sama menegangkannya.
"Saya menangis karena merasa telah mengecewakan rekan setim setelah gagal mengeksekusi penalti. Terlebih lagi cara saya menendangnya. Namun beruntung, sekali lagi Tuhan punya sesuatu yang spesial untuk saya di akhir laga. Saya sangat bahagia," ujar Lionel Messi.
Kisah lain datang dari persahabatan antara Achraf Hakimi dan Kylian Mbappé. "Mereka adalah saudara," tulis Le Figaro pada halaman utama. Kedua sahabat ini akan kembali menjadi lawan dalam laga Prancis menghadapi Maroko. Menurut media AS, keduanya kini statusnya "lebih dari sekadar teman".
Kylian Mbappé dan Achraf Hakimi harus melupakan persahabatan mereka untuk sementara waktu. Mereka akan bertarung dalam laga perempat final Piala Dunia yang sengit di Boston. Dua mantan pemain PSG yang sudah seperti saudara ini akan saling berhadapan untuk kelima kalinya sebagai lawan.
Hubungan dekat mereka tetap terjaga di luar lapangan meskipun terpisah jarak. Namun tensi pertandingan dipastikan akan sangat tinggi. Laga ini mengingatkan publik pada babak semifinal tahun 2022. Kylian Mbappé memiliki misi membawa Prancis meraih bintang ketiga. Penyerang Real Madrid itu menegaskan akan melakukan segalanya untuk mengalahkan sahabatnya.
Di sisi lain, Achraf Hakimi harus menghadapi masalah hukum dalam beberapa bulan ke depan. Dia akan menjalani sidang kasasi atas tuduhan pemerkosaan. Menurut laporan koran L'Equipe, persahabatan mereka kini sedang dilingkupi awan mendung. Kesaksian Kylian Mbappé yang awalnya ingin meringankan Achraf Hakimi justru berbalik menyudutkan pemain Maroko tersebut.
Suasana berbeda terlihat di kubu Prancis. Berdasarkan laporan Le Parisien, "ada kegembiraan di dalam rumah biru". Menjelang laga perempat final melawan Maroko, Timnas Prancis menunjukkan kekompakan yang luar biasa di markas mereka di Boston.
Timnas Prancis sempat melewati masa-masa sulit pada awal turnamen. Salah satunya adalah berita duka wafatnya ibu dari pelatih Didier Deschamps. Namun para pemain tetap menjaga semangat kekeluargaan yang erat dan sering bercanda bersama.
Ousmane Dembélé dan Marcus Thuram menjadi sosok yang menghidupkan suasana ruang ganti. Mereka dibantu oleh Rayan Cherki yang mulai diterima oleh para pemain senior. Ada juga Michael Olise yang kini menjadi maskot tim.
Para pemain juga menikmati waktu santai di luar lapangan. Banyak dari mereka yang berjalan-jalan secara inkognito untuk menjelajahi kota Boston. Mereka menggunakan penutup kepala untuk menyamar. Kylian Mbappé sangat menikmati kebebasan yang dia dapatkan di Amerika Serikat tersebut.