Musim kompetisi baru saja dimulai, namun aroma kontroversi khas Ligue 1 sudah langsung tercium. Sehari setelah Trophée des Champions yang dimenangkan oleh Lens atas PSG di Stadion Bollaert-Delelis, perdebatan sengit langsung mencuat di kalangan penikmat sepak bola Prancis.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak berita terbaru tentang Désiré Doué dan PSG dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Bukan hanya soal keputusan wasit di lapangan, penyelenggaraan edisi ke-31 ajang perebutan Piala Super Prancis ini menuai kritik tajam. Alih-alih digelar di luar negeri seperti tahun sebelumnya di Kuwait, LFP kali ini memutuskan menggelar pertandingan di kandang Lens setelah melalui undian pada bulan Juni lalu.
Keputusan tersebut langsung memicu kemarahan para pendukung garis keras PSG yang memilih memboikot perjalanan ke kandang lawan. Menurut Achraf Hakimi, format pertandingan tunggal di kandang lawan ini sangat merugikan timnya dan mencederai asas sportivitas sebuah partai final.
Berdasarkan pernyataan Achraf Hakimi kepada Ligue 1 +, timnya sudah berjuang maksimal sepanjang pertandingan. "Kami telah melakukan segalanya untuk menang, menciptakan peluang, dan mengontrol jalannya laga, namun ada situasi di luar kendali seperti bermain di stadion yang tidak netral tanpa suporter kami," ujar bek asal Maroko tersebut.
Achraf Hakimi juga menambahkan bahwa laga puncak seharusnya digelar di tempat netral dengan pembagian suporter yang adil. "Hari ini suasananya lebih mirip pertandingan Ligue 1 karena kami bermain tandang, dan hal ini harus dievaluasi jika ingin memajukan liga," tambahnya.
Kekalahan dari Lens ini menjadi kegagalan pertama Luis Enrique di laga final sejak menukangi PSG. Meski demikian, hasil minor di awal musim ini tidak mengendurkan ambisi besar PSG untuk memburu sejarah baru di kancah domestik maupun Eropa.